QRIS Semakin Kuat, Airlangga: Negara Lain Takut dengan Inovasi Kita

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa sistem pembayaran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) semakin kuat dan menjadi perhatian negara-negara lain. Hal ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Jakarta, di mana ia menjelaskan perkembangan terbaru mengenai penggunaan QRIS di Indonesia.
Peningkatan Pengguna QRIS
Menurut Airlangga, saat ini jumlah pengguna QRIS telah mencapai 56 juta, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pengguna kartu kredit di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin beralih ke sistem pembayaran digital yang lebih praktis dan efisien.
Keunggulan QRIS
QRIS menawarkan berbagai keunggulan yang membuatnya lebih diminati. Salah satunya adalah kemudahan dalam melakukan transaksi, di mana pengguna hanya perlu memindai kode QR untuk melakukan pembayaran. Selain itu, QRIS juga mendukung berbagai jenis transaksi, mulai dari pembayaran di toko fisik hingga transaksi online.
QRIS di Mata Dunia Internasional
Airlangga menambahkan bahwa keberhasilan QRIS tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga menarik perhatian negara-negara lain. “Negara lain melihat QRIS sebagai inovasi yang patut dicontoh, dan ini menjadi salah satu alasan mengapa mereka merasa ‘takut’ dengan perkembangan sistem pembayaran kita,” ujarnya.
Dukungan Pemerintah
Pemerintah Indonesia terus mendukung pengembangan QRIS melalui berbagai kebijakan dan inisiatif. Airlangga menegaskan bahwa digitalisasi ekonomi adalah salah satu prioritas utama pemerintah, dan QRIS merupakan bagian penting dari strategi tersebut. “Kami ingin memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkan teknologi ini,” tambahnya.
Kesimpulan
Dengan semakin banyaknya pengguna dan pengakuan internasional, QRIS menunjukkan potensi besar sebagai sistem pembayaran masa depan. Airlangga Hartarto optimis bahwa QRIS akan terus berkembang dan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi digital ekonomi Indonesia.




